Feed on
Posts
Comments

Salam Budaya!

Setelah memiliki blog di sini, di sini, di sini, dan di sini, akhirnya terpikir juga untuk membuat blog yang khusus mengangkat topik masalah sastra, mulai dari cerpen, puisi, esai, liputan, hingga apresiasi.

Ada keresahan dan kegelisahan yang cukup mengganggu saya ketika topik sastra ini diangkat ke permukaan. Di tengah menjamurnya budaya pop, sastra yang sebenarnya sudah lama ada dalam bentuk sastra lisan yang kemudian berkembang menjadi sastra tulisan, dari tahun ke tahun, bahkan hingga generasi ke generasi, sastra belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Sementara itu, karya sastra, baik yang ditulis di koran, tabloid, majalah, bahkan juga melalui blog, terus gencar dihasilkan oleh para penulis. Sebuah perkembangan yang cukup menggembirakan dari sisi produktivitas dan kreativitas bersastra. Namun, perkembangan semacam itu tak banyak artinya tak diapresiasi oleh publik.

Apresiasi sastra yang berlangsung di sekolah, yang seharusnya mampu menjalankan fungsi terakhirnya sebagai sebuah “benteng” akhirnya runtuh juga. Kurikulum sebenarnya sudah sangat memungkinkan untuk menyajikan pelajaran apresiasi sastra secara serius dan intens. Namun, apalah artinya sebuah konsep kurikulum yang bagus tanpa didukung oleh “akttor” utama, yakni seorang guru. Sementara itu, jika kita mau jujur, masih perlu pemberdayaan guru secara serius dan simultan.

Blog ini hanyalah sebuah blog seorang guru yang ingin membuat catatan-catatan ringan tentang persoalan sastra. Kehadirannya bukanlah apa-apa. Meski demikian, setidaknya bisa menjadi media eskpresi bagi saya pribadi yang ingin ikut berkiprah dalam menumbuhkembangkan dunia sastra.

Nah, salam budaya!!! Merdeka!!!

 

Sawali Tuhusetya

Sang Primadona

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Dada Tarmi naik-turun. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Kehadiran Surtini benar-benar membikin hatinya gerah. Sudah hampir sepuluh tahun ia malang melintang di dunia ketoprak tobong, belum pernah seorang pun yang mampu menggeser perannya sebagai rol dalam sebuah lakon. Yang membikin hatinya makin masygul, tidak ada seorang pun yang berupaya melakukan pembelaan-pembelaan. Betapa tidak sakit hati kalau tiba-tiba saja ia dicampakkan begitu saja, dibuang ke tong sampah.

Terbayang setiap kali pentas, ia bisa menghibur dirinya di tengah himpitan hidup yang berat dan sumpek. Ia bisa dengan mudah melupakan segala thethek-bengek urusan hidup yang serba ruwet. Baginya, panggung pertunjukan adalah istana yang mampu melambungkan mimpi-mimpi hidup yang serba enak dan menghanyutkan. Ia bisa dengan mudah memerankan permaisuri raja yang agung, putri istana yang cantik dan dimanjakan, pahlawan wanita yang dipuja banyak orang, pendekar yang dikagumi, atau bidadari yang dikelilingi banyak dayang. Tapi, kini kebahagiaan itu raib sudah. Tarmi menyedot napas panjang. Terasa benar, tenggorokannya amat berat seperti terganjal beban yang menyumbatnya.

Continue Reading »

Sinyalemen tentang meredupnya pamor guru sebenarnya sudah lama terdengar, bahkan gaungnya masih sering menggema hingga sekarang. Sosok guru menjadi objek yang gampang mengundang perhatian, tanggapan, dan penilaian tersendiri dari berbagai kalangan. Hal ini sangatlah beralasan, sebab gurulah yang berada di garda depan dalam “barikade” pendidikan sebagai pengajar, pembimbing, pelatih, dan pendidik yang langsung bersentuhan dan bergaul dengan peserta didik sehari-hari di sekolah. Gurulah yang dinilai sangat dominan dalam mewarnai “kanvas” pendidikan. Tidaklah berlebihan jika terjadi sesuatu yang tidak beres dalam gerak dan dinamika pendidikan, orang beramai-ramai menuding guru sebagai biangnya.

Keberadaan guru kalau boleh ditamsilkan seperti lampu bangjo. Kehadirannya sangat penting dan amat dibutuhkan untuk memperlancar arus lalu lintas. Ketika guru mampu menjalankan tugasnya dengan baik, profesional, penuh dedikasi, disiplin, kreatif, inovatif, wibawa, dan mumpuni di bidangnya, orang menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bahkan menjadi sebuah keniscayaan. Ya, memang seharusnya dalam menjalankan tugas-tugas profesinya, guru harus memiliki landasan idealisme semacam itu. Lampu bangjo pun akan diperlakukan seperti itu. Tak seorang pun pengendara yang akan berteriak-teriak ketika lampu bangjo berfungsi dengan baik. Namun, ketika sang guru melakukan penyimpangan dan kesalahan sedikit saja, hal itu dianggap sebagai noda dan “dosa” tak terampuni. Gugatan dan hujatan pun terus mengalir (nyaris) tanpa henti. Hampir sama dengan para pengendara yang berteriak-teriak, bahkan mungkin mengumpat, ketika lampu bangjo mati.

Continue Reading »

Older Posts »